Sejarah Suku Baduy Di Indonesia

Suku Baduy

Suku Baduy – Provinsi Banten tenar dengan banyaknya obyek liburan. Mulai dari liburan alam sampai liburan religi ada di provinsi ini. Berdialog seputar kekayaan tradisi, provinsi ini malahan tak keok kekayaan tradisinya.

Mungkin kau kerap kali mendengar suku Baduy berbeda dengan suku asmat. Sebuah suku yang hidup di pedalaman Banten, hidup secara terisolasi dari dunia luar. Mereka hidup secara simpel dan menyatu dengan alam. Alam yang masih natural dan tradisi yang ditawarkan oleh kampung suku Badui menjadi tenaga tarik liburan tersendiri bagi tempat ini.

Suku Baduy atau Orang Kanekes, yaitu suku asli Indonesia yang mendiami salah satu kawasan di Kabupaten Lebak, Banten. Menjadi salah satu suku asli yang mendiami pulau padat penduduk, suku ini menjadi salah satu tenaga tarik liburan yang kerap kali dikunjungi pelancong. Letak suku Baduy sendiri ada di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes. Suku ini masih mempunyai kekerabatan http://www.theohiomusicawards.com/ dengan orang Sunda. Tak heran bila jasmaniah mereka mirip orang Sunda kebanyakan dan bahasa sehari-hari mereka yakni Bahasa Sunda.

Sejarah Suku Baduy Di Indonesia Yang Melegenda

Suku Baduy

Mereka hidup semacam itu natural, simpel, rukun dan selalu bergotong-royong dalam keseharian. Suku Baduy Dalam berpakaian didominasi warna putih, sebagai perlambang kesucian. Kemana malahan mereka bepergian mereka berjalan tanpa alas kaki. Adapun Suku Luar, yang berdomisili di sebagian kampung di sekitar kaki Gunung Kendeng, sedikit banyak telah membuka diri dengan arus modernisasi. Baju mereka didominasi warna biru tua atau hitam, perlambang mereka telah tak murni lagi atau telah termakan tradisi luar.

Karateristik
Suku Baduy terdiri dari dua kawasan adat adalah Baduy Dalam yang terdiri dari 3 kampung, adalah Cibeo, Cikartawana, Cikeusik. Serta Baduy Luar yang terdiri dari 62 kampung. Jumlah penduduk 1.206 jiwa tinggal di Baduy Dalam dan 11.736 jiwa tinggal di Baduy Luar. Mata pencaharian masyarakat Baduy yakni bertani dan berocok tanam di kebun yang awam disebut huma bukan dengan bermain judi slot online di situs slot online terpercaya. Sebagian dari mereka memasarkan hasil tani seperti buah-buahan, hasil palawija, gula aren, dan hasil dari kebun lainnya. Tetapi ada larangan untuk memasarkan padi yang sudah mereka panen.

Kepercayaan yang mereka anut disebut Sunda Wiwitan yang merujuk pada kepercayaan nenek moyang atau animisme. Bahasa yang diaplikasikan yakni bahasa Sunda dengan aksen Sunda-Banten. Beberapa dari mereka bisa berdialog bahasa Indonesia disebabkan komunikasi dengan masyarakat luar yang datang. Masyarakat Baduy tak mengetahui tradisi tulis-menulis dan sekolah formal. Istiadat dan ‘kitab suci’ mereka tersimpan rapi dalam wujud verbal secara turun temurun.

No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *