Mengenal Suku Buton, Suku Pelaut dan Si Mata Biru

Suku Buton adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Tenggara tepatnya di Kepulauan Buton. Suku Buton juga dapat ditemui dengan jumlah yang signifikan di luar Sulawesi Tenggara seperti di Maluku Utara, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Maluku, dan Papua dikarenakan migrasi orang Buton di akhir tahun 1920-an.

Seperti suku-suku di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok Nusantara dari yang hanya menggunakan perahu berukuran kecil yang dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.

Sejarah Suku Buton

Suku Buton merupakan salah satu suku yang menghuni wilayah kesultanan Buton yang berkuasa di wilayah Kepulauan Bau-Bau provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan dari buku silsilah Raja-Raja yang pernah memimpin di kesultanan Buton atau Walio, nenek moyang suku Buton adalah berasal dari Johor. Pada abad ke 15 diketahui seseorang berasal dari Johor bernama Sipunjanga bersama dengan temannya yaitu Sijawangkati, Simalui, dan Sitamanajo. Mereka masuk ke wilayah Nusantara dan mendirikan kesultanan bercorak Islam khususnya di kepulauan Bau-Bau.

Adat Istiadat Suku Buton

Adat suku Buton ada beberapa macam salah satu diantaranya ialah Tandaki atau Posusu, yaitu upacara yang berkaitan dengan penyunatan (tandaki bagi anak laki-laki) dan posusu(bagi anak perempuan). Upacara tandaki di peruntukan bagi anak laki-laki yang telah masuk aqil baliq, yang melambangkan bahwa anak laki-laki tersebut berkewajiban untuk melaksanakan segala perintah dan larangan yang diajarkan dalam Agama Islam. Posusu adalah upacara khitanan bagi anak perempuan sebagaimana tandaki bagi anak laki-laki. Pada posusu biasanya di barengi dengan mentindik (melubangi daun telinga) sebagai tempat pemasangan anting-anting. Tandaki dan Posusu biasanya di lakukan 1 hari sebelum pelaksanaan Idul fitri maupun idul adha.

Kepercayaan

Sebelum masuknya pengaruh Hindu ke Buton oleh bangsa Majapahit pada abad ke-13 dan Islam yang dibawah pada abad 15, masyarakat suku Buton mengenal dan memiliki kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang. Masuknya agama Hindu-Islam mendorong masyarakat Buton mulai menganut agama Hindu-Islam walaupun tidak meninggalkan kepercayaan asli seperti pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan dewa-dewa alam. Misalnya masyarakat nelayan Wakatobi khusunya Tomia mengenal adanya Dewa laut Wa Ode Maryam yang dipercaya dapat menjaga mereka dalam mengarungi lautan Banda yang terkenal ganas. Disamping itu masyarakat Buton juga mengenal Dewa yang melindungi keberadaan Hutan yang dikenal dengan nama Wa Kinam**** (tidak boleh disebut namanya/hanya diucapkan dengan cara berbisik)

Mayoritas bermata biru

Seseorang yang memiliki mata berwarna biru merupakan sesuatu yang langka di Indonesia yang sebagian besar penduduknya memainkan game situs judi slot online memiliki rambut hitam dan mata gelap. Namun beberapa anggota suku asli Buton memiliki mata biru yang paling menakjubkan, karena kondisi langka yang dikenal sebagai Sindrom Waardenburg.

No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.